A.
Latar
belakang
SASTRA?
Kesusastraan : susastra + ke – an
su + sastra
su berarti indah atau baik
sastra berarti lukisan atau karangan
Susastra berarti karangan atau lukisan yang baik dan indah.
Kesusastraan berarti segala tulisan atau karangan yang mengandung
nilai-nilai kebaikan yang ditulis dengan bahasa yang indah.
su + sastra
su berarti indah atau baik
sastra berarti lukisan atau karangan
Susastra berarti karangan atau lukisan yang baik dan indah.
Kesusastraan berarti segala tulisan atau karangan yang mengandung
nilai-nilai kebaikan yang ditulis dengan bahasa yang indah.
Apa yang ada dipikiran kalian saat
membicarakan SASTRA. Mungkin dari banyaknya kalian bilang sebuah puisi. Sastra
tidak hanyalah sebuah puisi, banyak mengenai sastra yang kita bisa kenali. Tapi
hidup di zaman era kini orang lebih mengenal karya sastra puisi karena puisi
itu lebih bersifat universal dan siapapun bisa membuatnya dengan kata-kata
mereka.
Saat diperkenalkan dengan perkembangan
karya sastra sebelum-sebelumnya pasti kita semua bingung, termasuk saya. Sebab
angkatan-angkatan puisi itu banyak banget. Saya juga tidak memungkiri bahwa
sifatnya karya sastra lama itu lebih sulit. Maklum saja sastra yang dituliskan
oleh penyair memiliki arti yang kadang hanya mereka yang tahu. Banyak sekali
penyair-penyair Indonesia yang menjadi penyair hebat seperti Chairil Anwar,
bahkan puisinya Sumandjaya “AKU” sampai sempat buming karena film di Ada Apa
Dengan Cinta. Tapi saya tak membahas mereka, yang akan saya bahas adalah
seorang penyair angkatan 66 yaitu SLAMET SUKIRNANTO.
B.
Tinjauan
Pustaka
1.b.
Biografi Slamet Sukirnanto
Nama :
Slamet Sukirnanto
Lahir :
Solo, Jawa Tengah
3 Maret 1941
Pendidikan :
SD Muhamadiyah I (Solo),
SMP Negeri III (Solo),
SMA Negeri II (Solo),
Fakultas Sastra
Universitas Indonesia
Aktifitas lain :
Pendiri Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (1964),
Anggota DPRGR dan MPRS sebagai wakil mahasiswa (1967-1971),
Pendiri KNPI dan Pengurus DPP KNPI (1978 -1982),
Anggota DKJ Komite Sastra (1990),
Ketua Majelis Kebudayaan pada Pimpinan Pusat Muhammadiyah ((1990),
Ketua Bidang Pengembangan Kebudayaan pada ICMI DPP Jakarta (1991),
Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (1993-1996)
Karya Tulis :
Jaket Kuning (1967),
Kidung putih (1967),
Gema Otak Terbanting (1974),
Bunga Batu (1979),
Catatan Suasana (1982),
Luka Bunga (1991)
Slamet Sukirnanto lahir
tgl 3 Maret l94l di Solo. Beliau adalah putra bungsu seorang pelukis R.Gunadi
(Sumoprawiro), ibunya E.AJ.Soekirni darah Kajaran. Mulai bayi sudah diasuh dan
dibesarlan oleh Mas Giman Kartoikromo dan mbok Panikem, karena tertukar ketika
bayi di rumah sakit. Dia Pernah kuliah di jurusan Sejarah Asia Tenggara UI
Jakarta. Ia aktif dalam Hizbul Wathon.Untuk belajar seni khususnya senilukis ia
pernah belajar di HBS. Slamet dikenal sebagai salah seorang pendiri Teater
Margoyudan Solo. Dalam dunia pergerakan politik ia pernah menjadi ketua KAMI
Pusat (l966), anggota MPRS (l967-7l).
Sebagai sastrawan
Slamet telah menghasilkan buku, “Kidung Putih” (l967), “Jaket Kuning” (l967),
“Gema Otak Terbanting” (l974), “Bunga Batu” (l979)dan “Catatan Suasana”
(l982). Sejumlah puisinya telah pula dimuat dalam antologi “Angka¬tan 66″
(l968) disusun HB Jassin, “Laut Biru Langit Biru” (l977) disusun Ajip Rosidi
dan “Seulawah, Antologi Sastra Aceh” (l995) disusun L.K.Ara dkk.
Ketika berada di Banda
Aceh pada tahun l995 Slamet juga menulis puisi religius. Begitulah suatu hari
saat berada di mesjid Baiturrachman ia menulis puisi bernafas agama Islam,
berjudul “Percakapan Subuh”.Bersama A. Hamid Jabbar, Slamet mengeditori buku
Parade Puisi Indonesia (1993). Dalam buku itu, termuat sanjak-sanjaknya: Rumah,
Rumah Anak-anak Jalanan, Kayuh Tasbihku, Gergaji, Aku Tak Mau; Bersama Sutarji
Calzoum Bachri dan Taufiq Ismail, Slamet menjadi editor buku Mimbar Penyair
Abad 21.
Salah satu sastrawan
yang besar yang dimiliki Indonesia. Beliau telah banyak menerbitkan baik
karya karya sastra, tulisan tentang seni rupa maupun teater. Slamet
Sukirnanto atau yang selalu ditulis dengan Slamet Kirnanto. Selama menjadi
mahasiswa fakultas sastra Universitas Indonesia selalu aktif dalam aksi
demonstrasi-demonstrasi menumbangkan orde lama pada tahun 1966. Dalam suasana
demonstrasi seperti itu terbit kumpulan sajaknya dalam bentuk
stensilan Jaket Kuning tahun 1967. Untuk beberapa tahun dia menjadi
anggota DPRGR dan MPRS sebagai wakil mahasiswa (1967-1971).
Tahun 1974, ia dikenal
sebagai Jaksa Penuntut Umum pada Pengadilan Puisi di Bandung. Kumpulan Sajaknya
adalah Kidung Putih tahun 1967, Gema Otak Terbanting tahun
1974, Bunga Batu Penerbit Puisi Indonesia tahun 1979.Bunga Batu
Penerbit Puisi Indonesia memuat sajak-sajaknya hasil rekaman situasi dan
peristiwa kemanusiaan ketika dia melawat ke Banjarmasin, Asahan, Prapat, Dili,
Kupang, Denpasar dan lain-lain daerah tanah air.
Pada awalnya ia akrab
dengan seni lukis. Tetapi ketika saya SMA ia kemudian tertarik pada drama. “Ini
karena Mas Willy (WS Rendra) waktu itu di Solo sedang giat-giatnya berteater.
Di SMA tahun 1962, bersama Salim Said, saya mendirikan grup Teater Margoyudan.
Saya juga bergaul dengan Mansyur Samin Cs yang tergabung dalam HPSS (Himpunan
Peminat Sastra Surakarta). Pergaulan dengan para penyair itu kemudian
membangkitkan saya untu menulis. Saya masih ingat, waktu bulan puasa, saya naik
sepeda keliling kota untuk menunggu waktu buka”, kenangnya.
Ayah angkat Slamet adalah seorang tukang batu dan ibunya adalah tukang buruh
cuci. “Tetapi orang tua angkat saya yang bersahaja itu belum pernah
bilang kowe dadio wong sugih (jadilah kamu orang kaya)
tetapi, kowe dadio priyayi (jadilah kamu priyayi). Priyayi bukan
dalam arti punya banyak harta, tetapi berpendidikan atau kira-kira intelek.
Mereka sangat memperhatikan kebutuhan rohani saya, jadi meski hidup kami penuh
penderitaan, buku saya dua lemari. Secara spiritual sangat bahagia. Menurut
saya proses kreatif adalah bagaimana seorang seniman mampu membaca dan
menghayati kehidupan. Kemudian bisa menguasai teknik penyampaian secara baik
sesuai media yang kita kuasai. Sebagai penyair, media saya puisi”, kenangnya.
Ia banyak belajar dari
membaca karya Chairil Anwar, Amir Hamzah, dan kemudian Sanusi Pane. Tetapi
belajar teknik yang mendetail dari almarhum Hartoyo Andangjaya. Menurutnya,
puisi adalah bingkai dan penyair harus mengisi bingkai itu secara penuh. “Saya
sangat senang dengan alam dan selalu bergetar untuk menuliskannya. Maka, semua
puisi yang pernah saya tulis dekat dengan alam. Karena kadang-kadang saya
kehilangan kepercayaan pada manusia. Kalau saya menulis puisi mengenai alam,
bukan berarti saya memotret alam, tetapi berdialog dengan alam. Alam disini
menyangkut alam fisik maupun alam spiritual. Jadi, puisi perjalanan saya
sebenarnya adalah puisi perjalanan spiritual. Sekarang ini banyak buku sastra
terbit atau acara pembacaan puisi, tetapi tidak ada yang memperhatikan. Orang
sudah mulai tidak peduli. Bahkan ada kecenderungan usaha mematikan. Unsur
senang dan tidak senang pada pengarang sudah menggejala. Sekarang sudah tidak
ada orang bijak seperti HB Jassin”, celotehnya.
2.b.
Wafatnya Slamet Sukirnanto
Kepadamu Kusampaikan
oleh Slamet Sukirnanto
oleh Slamet Sukirnanto
Kepak
merpati terbang di jaring mentari
Putih-putih bagai berlayar mega megah abadi
Kepak gagak terbang di jaring mentari
Hitam-hitam bagai awan memendam duka yang dalam
Sungguh, Dik, hidup mesti begini
Tentang kasih, maut menagih
Memendam, di dasar hati, antara kau dan aku.
Putih-putih bagai berlayar mega megah abadi
Kepak gagak terbang di jaring mentari
Hitam-hitam bagai awan memendam duka yang dalam
Sungguh, Dik, hidup mesti begini
Tentang kasih, maut menagih
Memendam, di dasar hati, antara kau dan aku.
1967
***
Puisi
ini menjadi salah satu karya kenangan kita semua, pecinta sastra Indonesia.
“Tentang kasih, maut menagih.”
Sejak
terserang stroke beberapa tahun yang lalu, Slamet Sukirnanto tidak tampak
secara fisik hadir dalam pelbagai perhelatan sastra, baik di Taman Ismail
Marzuki dan tempat-tempat lain. Kepergiannya ke Rahmatullah tentu menjadi
kehilangan besar, tidak semata bagi keluarganya, namun juga bagi sastra Indonesia.
Sebagai Pembina dan penasihat Komunitas Sastra Indonesia, kami pernah intens
bertemu, tentu selanjutnya warisan semangat dan spirit berkarya yang terus
menyala di dada kami.
Pak
Slamet berpulang ke rahmatullah, Sabtu 23 Agustus 2014 di Bekasi, Jawa Barat.
Selamat jalan, Pak Slamet Sukirnanto, Tuhan menanti dengan serambi yang nyaman.
C.
Kesimpulan
Karena
saya bukan seorang pecinta sastra, tapi saya sempat berkeinginan menjadi
seorang penyair. Melihat penyair membuat bait kata menjadi lebih indah dan tak
membosankan. Jikalau sedihpun tuangan hati penyair adalah nyata, yaitu sastra
yang ditulis dengan pena terbaik untuk hasil yang baik. Semua keadaan bisa
dirubah dengan sekejap melalui lihai tangan penyair.
Aku
turut berbangga saat Indonesia menghadirkan penyair-penyair terbaik , salah
satunya Slamet Sukirnanto. Kau mungkin belum berkilau di depan TV erakini, tapi
kau dikenal dilingkungan yang mengerti dirimu. YOU ARE GREATTER.
D.
Daftar
Pustaka
Buku
LEBIH DARI DURI kumpulan puisi
https://kamilaammii.wordpress.com/2012/11/08/biografi-slamet-sukirnanto/
No comments:
Post a Comment